Fajar Riza Ul Haq
Fajar Riza Ul Haq (lahir 1 Februari 1979) adalah seorang intelektual dan aktivis Muhammadiyah berdarah Sunda yang berasal dari Sukabumi, Jawa Barat. Saat ini, ia masuk dalam jajaran Kabinet Merah Putih Prabowo-Gibran dan dipercaya sebagai Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Indonesia sejak 21 Oktober 2024.[1][2] Sebelumnya, ia pernah menjadi Staf Khusus Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy (2016-2019) dan juga Staf Khusus Menteri Sekretaris Negara Bidang Sosial dan Kebudayaan Pratikno (2020-2024).[3] Kehidupan AwalLahir dari keluarga sederhana yang berlatar Islam tradisional tak menyurutkan semangatnya dalam mengayuh lautan ilmu kehidupan nan luas. Pria kelahiran 1 Februari 1979 ini mengenyam pendidikan dasar di SDN Cibunar 1, Kadudampit, Sukabumi (1986-1992). Pada 1992-1995, ia bersekolah di Madrasah Tsanawiyah Yasti 1 Cisaat yang berlokasi di Kota Santri itu. Rantau pertamanya adalah Ciamis, tatkala ia tafaqquh fiddin (pendalaman ilmu) di Madrasah Aliyah Keagamaan Khusus (MAKN) Darussalam Ciamis. KarierBiasanya, lulusan MAKN melanjutkan studi ke Timur Tengah atau Institut Agama Islam Negeri (sekarang UIN). Fajar berbeda. Bukan karena tidak mau, tetapi dikarenakan keterbatasan biaya. Oleh karena itu, ia kemudian memburu beasiswa sehingga akhirnya berlabuh di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Jawa Tengah. Vespa kesayangan keluarganya terpaksa dijual untuk modal merantau ke Solo. Selama di UMS, Fajar tidak hanya berkuliah, tetapi juga nyantri di Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Sukoharjo sekaligus aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Selain itu, ia juga seorang kolumnis media massa. Pada momen-momen inilah Fajar mengalami apa yang oleh Buya Syafii Maarif sebut sebagai "titik kisar"[4] pertama dalam perjalanan hidupnya. Diakui Fajar bahwa "di UMS saya tumbuh dalam atmosfer intelektual dan perdebatan yang dinamis".[5] Iklim semacam ini kemudian mengantarkannya ke tampuk Pimpinan Cabang IMM Sukoharjo sebagai Ketua Umum periode 2000-2002. Aktivisme di IMM dilakoninya hingga ke level pusat dengan menjadi ketua di Dewan Pimpinan Pusat IMM.[6] Setelah merampungkan jenjang S-1 di UMS, ia bergabung dengan Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) UMS sambil ngangsu kaweruh pada Program Studi Agama dan Lintas Budaya (Center for Religious and Cross-cultural Studies), Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Gelar doktor dalam bidang Kepemimpinan dan Inovasi Kebijakan juga ia raih di kampus yang sama. Meskipun kuliah sambil bekerja, girah aktivismenya tak surut. Ia terus aktif menulis sehingga kian dikenal—tak hanya di Jawa Tengah, tetapi radiusnya sudah meluas hingga ke Jakarta—seiring dengan tulisan-tulisannya yang dimuat di berbagai media, tak terkecuali media nasional. Di samping sebagai aktivis, penulis, dan sosok organisatoris, Fajar juga dikenal sebagai penggerak dan pegiat Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Sebuah paguyuban intelektual di kalangan anak-anak muda Muhammadiyah. Setelah meraih gelar master pada tahun 2006 dari UGM, pada saat bersamaan ia juga bergabung dengan MAARIF Institute yang berlokasi di Jakarta. MAARIF Institute[7] merupakan sebuah lembaga yang menjadi katalisator dalam membumikan pikiran-pikiran besar Buya Ahmad Syafii Maarif yang merupakan seorang cendekiawan Muslim terkemuka dan pernah menjabat sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah (1998-2000). Karier Fajar di MAARIF Institute terbilang lama, bahkan hingga saat ini, sekalipun tidak lagi berada di jajaran eksekutif. Dimulai pada 2006 sebagai direktur program. Setelah tiga tahun menggawangi berbagai program di MAARIF, ia kemudian ditahbiskan sebagai nahkoda atau Direktur Eksekutif MAARIF Institute for Culture and Humanity[8] selama enam tahun (2010-2016). Aktivisme dan kerja-kerja kemanusiaan tidak berhenti setelah ia tidak lagi menjadi Direktur Eksekutif MAARIF Institute. Justru, kerja-kerja kemanusiaan itulah yang menjadi komitmennya hingga kini tatkala ia dipercaya sebagai Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia (2024-2029). AktivismeJejak aktivisme Fajar dapat dilacak sejak ia mahasiswa. Saat itu, ia aktif di Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Cabang Sukoharjo hingga didapuk sebagai Ketua Umum periode 2000-2002. Pada saat bersamaan, ia juga pernah menjadi Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Surakarta (2001-2002). Aktivismenya di IMM terus berlanjut. Diketahui bahwa Fajar merupakan Ketua di Dewan Pimpinan Daerah IMM Jawa Tengah (2002-2003) dan juga pernah mendapat amanah sebagai Ketua di Dewan Pimpinan Pusat IMM (2003). Tak hanya di IMM, Anggota Badan Pembina Harian (BPH) Universitas Muhammadiyah Sukabumi (UMMI)[9] ini juga tercatat sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah tahun 2009 hingga 2010. Pada tahun 2015 sampai dengan 2018, ia ditunjuk sebagai Sekretaris Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Kini, Fajar yang juga merupakan dosen pada program magister ilmu administrasi UMMI dipercaya oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah untuk memimpin LKKS atau Lembaga Kajian dan Kemitraan Strategis periode 2022-2027.[10] Profesional
Karya Tulis
SinematografiSelama menjadi Direktur Eksekutif MAARIF Institute, Fajar sempat menggawangi lahirnya beberapa film[11] berikut:
Rujukan
Rujukan lainnya:
|